Monday, April 13, 2020

Resume "KONSEP PATHÊT DALAM KARAWITAN JAWA" Sri Hastanto



KONSEP PATHÊT DALAM KARAWITAN JAWA

BAB I
PENGANTAR
Bagi masyarakat karawitan Jawa, pathêt merupakan sesuatu yang sudah kasarira dalam kehidupan karawitan sehari-hari sehingga tidak pernah terpikirkan apa, mengapa, dan bagaimana peranan pathêt itu dalam menciptakan estetika karawitan Jawa. Hastanto menyebutkan beberapa tokoh pendekar pathêt diantaranya Jaap Kunst, Mantle Hood, Ki Sindusawarno, R. Machyar Angga Kusumadinata, R.C Hardjosubroto, dan R.L Martopangrawit. Mereka telah berjuang sekian lama berburu mencari kebenaran konsep pathêt yang didekati dari berbagai sudut dengan hasil yang sangat signifikan walaupun menurut Hastanto masih terdapat beberapa lubang kelemahan yang mengakibatkan berbagai teori pathêt yang telah terbangun kekuatan prediksinya menjadi kurang akurat.
Menurut Hastanto, kelemahan tersebut diklasifikasikan ke dalam dua permasalahan, diantaranya pertama, dalam mempelajari (mengorek konsep musikal) sebuah musik, harus ditangani dalam konteks budaya pemilik musik tersebut. Selain itu, juga mempelajari komponen budaya seperti bahasa, busana, kuliner, kesenian, dan lain-lain. Kedua, mengenai roh dan fisik sebuah benda. Maksudnya adalah benda fisik memiliki makna yang dahsyat dari apa yang sekedar terlihat.
Kedua permasalahan tersebut yang akan Hastanto perhatikan lebih dalam bahkan akan dijadikan sebagai piranti-piranti utama dalam mencari eksplanasi tentang konsep pathêt yang lebih mendekati kebenaran dalam buku Konsep Pathêt Dalam Karawitan Jawa.
Dalam membangun eksplanasi tentang konsep pathêt dalam karawitan Jawa, Hastanto dalam buku Konsep Pathêt dalam Karawitan Jawa menguraikannya mulai dari Piranti yang meliputi bentuk benda fisik karawitan dan konsep-konsep dalam karawitan, serta kebiasaan budaya masyarakat Jawa; Ulasan singkat mengenai berbagai macam usaha untuk menjelaskan kebenaran konsep pathêt dalam karawitan Jawa; Pertumbuhan rasa pathêt dalam laras sléndro; Pertumbuhan rasa pathêt dalam laras pélog.

BAB II
PIRANTI ANALISIS

Piranti analisis yang akan digunakan Hastanto dalam mendekati konsep pathêt terdiri dari berbagai pengetahuan karawitan Jawa baik yang bersifat tangible maupun intangible, baik tekstual maupun kontekstual. Karena menurut Hastanto, tanpa membeberkan piranti ini maka diskusi yang bersifat kultural maupun yang teknis akan selalu mengalami gangguan. Untuk sampai pada konsep pathêt, Hastanto akan mengupas lapisan kulit fisik maupun non-fisik yang membungkus konsep pathêt, diantaranya gamelan; tembang di dalam karawitan; gending; serta konsep ageng, tengah, alit.
§        Gamelan
Gamelan akan dijelaskan mulai dari definisi gamelan serta gambaran umum gamelan yang meliputi gambaran umum fisik dan gambaran umum non-fisik. Definisi gamelan adalah seperangkat fisik ansambel musik yang ricikannya didominasi oleh ricikan bersumber bunyi dengan bahan logam (perunggu) di dalam dua sistem pelarasan yaitu laras sléndro dan pélog. Selain berbahan perunggu juga terdapat ricikan dengan sumber bunyi kayu, dawai (petik maupun gesek), udara, serta membran.
Gambaran umum fisik gamelan dengan sumber bunyi logam terdiri dari empat bentuk, diantaranya bilah, pencon, piringan, dan gulungan. Untuk bentuk bilah, terdapat tiga jenis permukaan yaitu sigar penjalin, gigir sapi, dan kruwingan atau blimbingan. Bentuk bilah ditata horizontal berderet mulai dari nada berfrekuensi rendah sampai dengan nada berfrekuensi tinggi di atas rancakan kayu (jati atau sono).Terdapat dua macam rancakan untuk ricikan bentuk bilah, yaitu rancakan yang sekaligus berfungsi sebagai resonator seluruh nada, dan rancakan yang juga berfungsi sebagai tempat menata resonator setiap bilah yang ditata di atasnya.
Untuk bentuk pencon, terdiri dari dua macam yaitu pencon lanang dan pencon wadon. Pencon wadon dapat ditata secara vertical maupun horizontal, sedangkan pencon lanang ditata secara horizontal. Pencon yang ditata horizontal diletakkan di atas rancakan dengan dilengkapi dengan tali penyangga pencon. Pencon yang ditata vertikal digantung pada sebuah gawangan dengan tali khusus yang diameternya disesuaikan dengan ukuran pencon.
Untuk bentuk piringan selalu berpasangan, satu pihak ditata terlentang di atas tatakan dan yang lain dipegang tangan dan dibenturkan ada pasangannya. Bentuk gulungan juga berpasangan yang dimainkan oleh dua pemain dipegang dengan cara khusus dan ditabuh dengan tabuhan khusus pula.
Gamelan dengan sumber bunyi dawai yang dipetik maupun digesek terbuat dari kawat kuningan. Untuk dawai yang dipetik kawatnya direntang berjajar dengan diganjal dengan logam tipis miring di atas sebuah resonator yang sekaligus berfungsi sebagai badan ricikan. Sedangkan dawai yang digesek direntang di sebuah bingkai terbuat dari kayu keras, gading, atau tanduk. Resonator terbuat dari batok kelapa atau kayu yang ditutup membran tipis. Getaran kawat ditimbulkan dari gesekan yang terbuat dari bulu ekor kuda yang direntang pada sebuah busur.
Gamelan dengan sumber bunyi udara dibangun dengan menggunakan buluh bambu khusus, pada bagian badan dilengkapi dengan lubang-lubang pengatur nada. Untuk sumber bunyi memban berbentuk silinder dengan bagian kanan dan kiri dipasang membran. Kedua membran ditegangkan dengan sistem tali-temali dengan badan ricikan terbuat dari kayu.
Gambaran umum non-fisik gamelan meliputi laras, êmbat, dan pathêt. Laras yaitu sistem pengaturan frekuensi dan interval nada, dalam gamelan terdapat dua sistem pelarasan yaitu sléndro dan pélog. Êmbat yaitu suasana atau atmosfer musikal yang disebabkan karena struktur interval dalam pelarasan gamelan, sedangkan pathêt yaitu suasana/atmosfer musikal yang disebabkan karena rasa seleh pada nada-nada tertentu dalam sebuah lagu hasil dari rangkaian nada-nada pembentuk  lagu itu sendiri.
§        Tembang
Tembang atau sekar adalah lagu vokal yang teksnya berupa puisi Jawa tradisional yang sering disebut basa pinathok. Teks yang secara format sudah demikian ketatnya masih harus mengandung permainan kata seperti jumlah suku kata, panjang-pendek sifat suku kata, dan rima yang teratur. Secara umum terdapat empat jenis tembang atau sekar yaitu sekar ageng, sekar tengahan, sekar macapat, dan lelagon. 
§        Gending
Istilah gending digunakan untuk memberi nama lagu-lagu yang disajikan oleh gamelan baik secara instrumental maupun dengan vokal, dan di dalam gending inilah terutama konsep pathêt beroperasi. Di dalam dunia karawitan terdapat banyak istilah yang berkaitan langsung dengan gending, diantaranya gending alit, gending ageng, gending sekar, gending pamijèn, gending rebab, gending gender, gending bonang, gending gambang, gending kendang, gending pakurmatan, dsb.
-) Bentuk dan Struktur Gending
Bentuk dan struktur gending yang digolongkan sebagai gending alit adalah lancaran, ketawang, dan ladrang. Sedangkan gending ageng meliputi gending kêthuk 2 kêrêp, kêthuk 2 arang, kêthuk 4 kêrêp, dan kêthuk 4 arang. Bentuk kêthuk kêrêp maupun arang dalam karawitan disebut mérong, yang biasanya tidak dapat disajikan sendiri. Dalam kebiasaannya mérong harus disajikan dengan bentuk kelanjutannya yang disebut inggah.
Bentuk gending yang reguler pasangan mérong dan inggah sebagai berikut: Ketawang gending kêthuk 2 kêrêp minggah 4, Ketawang gending kêthuk 4 minggah 8, Gending kêthuk 2 kêrêp minggah 4, Gending kêthuk 4 minggah 8, Gending kêthuk 8 minggah 16, Gending kêthuk 2 arang minggah 8, Gending kêthuk 4 arang minggah 16.
Selain gending di atas, terdapat juga gending pamijèn. Gending pamijèn artinya tidak reguler atau sesuatu yang khusus. Bentuk yang dianggap pamijèn apabila struktur frasa gending itu keluar dari kebiasaan. Selain pamijèn, dalam karawitan terdapat juga bentuk gending khusus, yaitu gending yang panjang pendeknya kalimat lagu tidak merata seperti bentuk gending yang sudah dijelaskan di atas. Bentuk gending khusus tersebut antara lain ayak-ayak, srepeg, sampak, dan kemuda.
-) Sajian Gending
Terdapat dua kelompok besar sajian gending dalam karawitan, yaitu klenengan dan wayangan. Klenengan adalah bila gending itu disajikan khusus untuk didengarkan/ sebagai sajian konser musikal, sedangkan wayangan bila gending itu disajikan untuk mengiringi perhelatan wayang kulit sesiang atau semalam suntuk.
Sajian klenengan (konser musikal) secara tradisional terdapat aturan terkait pathêt. Untuk sajian klenengan pada siang hari urutan gending yang disajikan harus dimulai dari gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan gending pélog pathêt barang, dilanjutkan gending sléndro pathêt sanga berpasangan dengan gending pélog pathêt nem, menjelang sore disajikan kembali gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan gending pélog pathêt barang. Sedangkan untuk sajian klenengan pada malam hari dimulai dari gending sléndro pathêt nem berpasangan dengan gending pélog pathêt lima, dilanjutkan gending sléndro pathêt sanga berpasangan dengan gending pélog pathêt nem, menjelang pagi disajikan kembali gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan gending pélog pathêt barang. Untuk sajian wayangan, dimulai dari pathêt nem, sanga, kemudian manyura.
-) Pendukung Sajian Gending
Pendukung sajian gending adalah lagu-lagu pendek maupun panjang yang biasanya berirama ritmis dan disajikan oleh sebagian irama garap. Pendukung ini dimainkan sebelum atau sesudah sajian gending untuk memantapkan rasa pathêt gending. Lagu-lagu pendukung gending tersebut antara lain thinthingan gender, grimingan gender, senggrengan rebab, pathêtan, sendhon, ada-ada, dan adangiyah.
-) Jenis Gending Berdasarkan Ricikan yang Memimpin
Secara tradisional gending juga diklasifikasikan berdasarkan ricikan yang memimpin menjadi 5 kelompok, yaitu gending bonang, gending rebab, gending gender, gending gambang, dang gending kendang.
§        Konsep Ageng, Tengah, dan Alit
Budaya Jawa tidak membagi tinggi-rendah suara musik secara fisik tetapi semua diukur dengan rasa keindahan sesuai dengan kebiasaan budayanya. Tinggi-rendah nada hanya dibagi menjadi tiga, yaitu alit (kecil atau tinggi), tengah (sedang), dan ageng (besar atau rendah).
§        Arah Nada
Salah satu karakteristik balungan gending adalah arah nada dari balungan gending itu. Dalam melodi apapun arah nada hanya ada tiga, yaitu arah nada turun (descending melody), gantungan (reciting melody) dan arah nada naik (ascending melody).

BAB III
STUDI PATHÊT MASA LALU
SELAYANG PANDANG

§        Teori Nada Gong
Para pionir terobsesi oleh teori musik Barat, kemudian secara statistik mencatat nada-nada gong dari gending-gending pathêt sanga, manyura dan nem , maka ditentukanlah bahwa nada gong pada pathêt manyura kebanyakan nada nem (6), gulu (2), dhadha (3); pathêt sanga pada nada lima (5), barang (1),dan gulu (2); sedangkan pathêt nem pada nada-nada gulu (2), lima (5), dan nem (6). Apabila nada-nada tadi dideret maka nada-nada gong tersebut menjadi lingkaran kempyung (sircle of fifth). Pikiran inilah yang digunakan Hastanto untuk mengembangkan instrumen analisis pathêt yang dalam buku ini Hastanto sebut “teori nada gong”.
Secara teoritis memang fantastis, tetapi dalam kehidupan karawitan Jawa sehari-hari seperti itu tidak terjadi sehingga dari pengembangan tools analisis pathêt ini diketemukan, bahwa pathêt sanga adalah pathêt terendah diantara pathêt manyura dan nem. Rekayasa imajiner menunjukkan sléndro pathêt sanga adalah pathêt yang terendah . Padahal dalam praktik sehari-hari pathêt nem-lah yang terendah.
Jika konsep “nada gong” sebagai penanda pathêt itu betul, memang pathêt sanga bukanlah pathêt terendah tetapi menduduki tengah-tengah. Pathêt manyura tertinggi dan pathêt nem terendah.
§        Theme (Pengembangan Tema Melodi)
Konsep musik Barat lainnya yang digunakan sebagai padanan studi pathêt adalah tema lagu. Konsep ini diterapkan di dalam komposisi gending Jawa. Dalam hal ini yang dianggap sebagai tema inti gending adalah lagu pendek sebagai pembuka sebuag gending. Hasil ini menurut Hastanto tidak akurat, sebab memang tidak demikian budaya karawitan Jawa. Hastanto mengambil contoh buka Gending Titipati sléndro pathêt nem yang identik dengan buka Gending Gandakusuma sléndro pathêt sanga.
Menurut Hastanto, kalau memang tema inti itu merupakan “biang”-nya sebuah gending, tentunya walaupun mungkin melodinya berkembang berbeda, pathêtnya tentu harus masih sama. Tetapi dalam kenyataannya pathêt Gending Titipati tidak sama dengan pathêt Gending Gandakusuma. Dengan demikian Hastanto menyimpulkan bahwa tema inti yang dikembangkan oleh Mantle Hood tidak dapat digunakan sebagai penanda pathêt dalam karawitan Jawa secara akurat.
§        Frasa dan Gatra
Sebuah gending terdiri dari beberapa kalimat lagu, dan setiap kalimat lagu terdiri dari frasa-frasa. Frasa adalah satuan terkecil  dari sebuah lagu. Analisis dalam penelitian rasa pathêt juga menggunakan frasa sebagai satuan melodi terkecil. Di dalam kebanyakan gending Jawa, frasa berhimpitan dengan satuan metrik notasi gending yang disebut gatra. Tetapi banyak juga frasa yang tidak berhimpit dengan gatra. Hal ini yang sering menjebak para peneliti pathêt sebelumnya, mereka mengira bahwa gatra adalah satuan melodi terkecil.
Sindusawarna, Hardjasubrata, dan Machyar Angga Kusumadinata mendasarkan analisisnya pada gatra, dan nada akhir gatra menjadi sangat penting. Menurut Hastanto tentu saja hasil studi para pionir ini kurang akurat untuk menjelaskan masalah pathêt. Sebab sering dapat kita temui bahwa akhir gatra bukanlah akhir frasa.
§        Kombinasi Kontur, Pitch, dan Posisi
Judith Becker merintis jalan baru untuk menjelaskan pathêt yang diikuti oleh muridnya, Susan Walton. Mereka mencari penjelasan pathêt lewat tiga kombinasi situasi, yaitu kontur melodi, tinggi rendah nada (pitch), dan posisi melodi itu di dalam struktur sebuah gending. Melodi yang dimaksud adalah satuan melodi terkecil, dan gatra masih dianggap sebagai satuan terkecil itu. Dengan demikian tentunya kalau ada melodi berkontur sama, tinggi rendah nadanya sama, dan posisinya di dalam struktur gending sama maka pathêtnya sama.
Hastanto dalam bukunya mengambil contoh notasi balungan 3231 3216 (kenong pertama Ladrang Pangkur sléndro pathêt manyura) dan notasi balungan 5621 3216 (kenong perama Ketawang Sinom Parijatha sléndro pathêt sanga). Notasi balungan 3216 pada kedua repertoar gending di atas kontur melodinya sama menurun urut, nadanya sama juga, posisinya sama-sama menduduki gatra kedua kenong pertama, tetapi kenyataanya memiliki pathêt yang berbeda.
§        Dyad Akhir Cengkok Gender
Sumarsam dan McDermot mengadakan studi tentang pathêt lewat sajian gender barung. Mereka menyatakan bahwa akhir cengkok gabungan nada (dyad) 2/2, 3/3, dan 2/5 menunjukkan pathêt frasa tersebut adalah pathêt nem; apabila berakhir pada gabungan nada (dyad) 5/5, 6/6, 5/1, dan 6/2 adalah pathêt sanga; apabila berakhir pada gabungan nada (dyad) 6/6, 1/1, 6/2, dan 1/3 adalah pathêt manyura.
Menurut Hastanto studi pathêt Sumarsam dan McDermot belum menyelesaikan masalah, karena belum bisa menentukan pathêt apabila gabungan nada (dyad) berakhir dengan dyad 6/6 dan 6/2 sebab kedua gabungan itu terdapat di dalam cengkok pathêt sanga dan pathêt manyura.
§        Cengkok Mati
KRT. Martodiputo atau yang lebih dikenal dengan nama Martopangrawit mengembangkan konsep “cengkok mati” sehubungan dengan studi mengenai pathêt. Cengkok mati adalah frasa tertentu yang selalu digarap oleh instrument garap dengan pathêt yang tetap.
Berdasarkan pengalamannya menyajikan karawitan sebagai penggender, Martopangrawit mencatat “cengkok mati” pathêt sanga, manyura dan nem. Studi pathêt Martopangrawit menurut Hastanto juga belum bisa menyelesaikan masalah. Hastanto mengambil contoh balungan cengkok mati pathêt sanga yang sudah dicatat Martopangrawit yaitu 22.. 2321. Menurut Martopangrawit, balungan cengkok mati tersebut berpathêt sanga kemudian Hastanto mengambil contoh balungan yang sama yaitu 22.. 2321 dalam Gending Lobong sléndro pathêt manyura dalam rangka menyanggah studi pathêt dari Martopangrawit. Dalam Gending Lobong sléndro pathêt manyura balungan 22.. 2321 sama sekali tidak mempunyai rasa pathêt sanga.
§   Pasangan Pathêt dalam Laras Selndro dan Pélog: Sebuah Kebiasaan Budaya Jawa
Terpengaruh oleh teori lingkaran kempyung, fungsi nada atau nada dasar dalam setiap pathêt dan juga persepsi bahwa pathêt sléndro dan pélog berpasangan, maka banyak peneliti yang menggunakan alur pikir pencarian kebenaran pathêt di dalam laras sléndro untuk diterapkan ke dalam pencarian kebenaran pathêt di dalam laras pélog. 
Berdasarkan pengamatan kembali pathêt-pathêt di dalam laras pélog, Hastanto dalam buku ini berusaha keluar dari jalan dan pemikiran yang sudah-sudah, terdeteksi bahwa secara teknis rinci pathêt di dalam laras pélog berbeda dengan apa yang ada di dalam laras sléndro. Persamaan landasannya tidak terletak pada teknis rinci seperti yang diperkirakan oleh peneliti terdahulu, tetapi landasan yang lebih luas, lebih musikal, yaitu atmosfer musikal. Penyebab atmosfer yang berbeda antara pathêt-pathêt di dalam laras sléndro berlainan dengan apa yang ada di dalam laras pélog.

BAB IV
PATHÊT DALAM LARAS SLÉNDRO
                       
            Pathêt, paling tidak di dalam laras sléndro adalah suasana musikal atau atmosfer tertentu yang ditimbulkan oleh frasa-frasa melodi tertentu. Sebuah frasa tiddak akan berarti apa-apa sebelum didahului dan diikuti dengan frasa-frasa melodi yang lain. Sebuah gending akan mempunyai atmosfer sléndro pathêt manyura: a) apabila gending itu hanya terdeiri dari frasa-frasa pathêt manyura; b) apabila gending itu terdiri dari frasa campuran pathêt tetapi pathêt manyura merupakan yang mayoritas; c) apabila gending itu mengandung frasa-frasa pathêt lain yang cukup panjang tetapi diakhiri dengan frasa-frasa pathêt manyura.
            Sebuah gending akan dirasakan sebagai gending sléndro pathêt sanga: a) apabila gending itu hanya terdiri dari frasa-frasa pathêt sanga; b) apabila gending itu terdiri dari frasa campuran pathêt tetapi frasa pathêt sanga merupakan yang mayoritas; c) apabila gending itu mengandung frasa-frasa pathêt lain yang cukup panjang tetapi diakhiri dengan frasa-frasa pathêt sanga.
            Tidak ada gending yang hanya terdiri dari frasa-frasa pathêt nem saja. Sebuah gending akan dirasakan sebagai gending sléndro pathêt nem: a) apabila frasa-frasa pathêt nem merupakan frasa yang mayoritas dan menduduki berbagai seleh melodi; b) apabila seleh kalimat lagunya adalah frasa nem walaupun sebagian besar frasa dalam gending itu merupakan frasa yang berpathêt ganda atau netral; c) apabila frasa pathêt nem menduduki sebagian besar bagian gending walaupun frasa lainnya merupakan campuran antara frasa-frasa pathêt manyura, pathêt sanga, dan frasa-frasa berpathêt ganda atau netral dalam hal pathêt.
            Apabila di dalam gending terdapat perpindahan pathêt biasanya mengikuti satu pola, yaitu perpindahan pathêt manyura ke pathêt nem atau sebaliknya, dan dari pathêt sanga ke pathêt nem atau sebaliknya. Jarang sekali terjadi perpindahan dari pathêt sanga ke pathêt manyura atau sebaliknya secara langsung. Apabila hal itu terjadi, maka rasa pathêt pada gending itu menjadi “ngambang” sehingga gending itu sering digarap di dalam laras pélog yang mempunyai toleransi lebih tinggi dalam hal menerima campuran pathêt, atau digarap dalam laras sléndro sebagai gending bonang. Apabila figure pathêt manyura diikuti langsung oleh figure pathêt sanga akan menimbulkan atmosfer yang lain dari kedua pathêt itu, yaitu rasa sléndro pathêt nem.

BAB V
PATHÊT DALAM LARAS PÉLOG

            Pathêt di dalam laras pélog, seperti halnya di dalam laras sléndro, adalah semacam suasana musikal atau atmosfer yang dibangun oleh susunan melodi tertentu. Rasa ini dapat dirasakan oleh mereka yang terbiasa dengan dunia karawitan. Walaupun ada empat pathêt yang dapat dirasakan, yaitu pélog pathêt lima, pélog pathêt nem, pélog pathêt barang, dan pélog pathêt manyura, tetapi hanya tiga pathêt yang secara resmi diakui. Pélog pathêt manyura biasanya dimasukkan dalam kategori pélog pathêt nem. Hal itu mungkin disebabkan karena rasa musikalnya mirip dengan pélog pathêt nem dan jumlahnya tidak banyak.
            Salah satu pathêt di dalam laras pélog, yaitu pélog pathêt barang, menggunakan laras tersendiri, yaitu sub-laras pélog pathêt barang. Di dalamnya paling tidak terdapat tiga karakteristik kombinasi melodi yang dapat membangun rasa “pathêt” yang berbeda-beda, tetapi karena atmosfer musikalnya tidak begitu berbeda maka semuanya ‘dianggap’ sebagai satu pathêt saja, yaitu pélog pathêt barang. Ternyata pélog pathêt barang bukan seperti keranjang sampah, yang artinya apapun bentuk melodinya apabila dimainkan di dalam sub-laras pélog barang menjadi pathêt barang. Anggapan itu salah, ternyata gending-gending yang melodinya berkarakter sléndro sanga kental, tidak dapat dimainkan di dalam sub-laras pélog pathêt barang.
            Di dalam sub-laras pélog bem, telinga pengrawit dapat membedakan adanya tiga aftmosfer musikal yang diberi nama: pélog pathêt lima, pélog pathêt nem, dan pélog pathêt manyura. Seperti halnya di dalam laras sléndro, perbedaan atmosfer musikal ini dibangun poleh susunan melodi tertentu. Susunan-susunan melodi itu dapat menimbulkan efek terhadap nada mana yang dianggap tepat sebagai nada penting. Nada-nada penting itu tidak harus menjadi nada seleh, mereka merupakan nada yang diharapkan oleh rasa musikal kita untuk hadir sebagai seleh melodi. Apabila nada-nada penting itu menduduki seleh melodi, maka rasa mantap akan memenuhi rasa musikal kita, semacam terpatri dan sulit untuk diganti. 


No comments:

Post a Comment

Laporan Observasi "Tayub" sebagai pelengkap rangkaian upacara adat Unan-Unan Suku Tengger Probolinggo

“TAYUB” Rangkaian Upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger Ds. Jetak, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur             Per...