KONSEP PATHÊT DALAM KARAWITAN JAWA
BAB I
PENGANTAR
Bagi masyarakat karawitan Jawa, pathêt merupakan sesuatu yang sudah kasarira dalam kehidupan
karawitan sehari-hari sehingga tidak pernah terpikirkan apa, mengapa, dan
bagaimana peranan pathêt itu dalam menciptakan
estetika karawitan Jawa. Hastanto menyebutkan beberapa tokoh pendekar pathêt diantaranya Jaap Kunst, Mantle
Hood, Ki Sindusawarno, R. Machyar Angga Kusumadinata, R.C Hardjosubroto, dan
R.L Martopangrawit. Mereka telah berjuang sekian lama berburu mencari kebenaran
konsep pathêt yang didekati dari
berbagai sudut dengan hasil yang sangat signifikan walaupun menurut Hastanto
masih terdapat beberapa lubang kelemahan yang mengakibatkan berbagai teori pathêt yang telah terbangun kekuatan
prediksinya menjadi kurang akurat.
Menurut Hastanto, kelemahan tersebut diklasifikasikan ke
dalam dua permasalahan, diantaranya pertama, dalam mempelajari (mengorek konsep
musikal) sebuah musik, harus ditangani dalam konteks budaya pemilik musik
tersebut. Selain itu, juga mempelajari komponen budaya seperti bahasa, busana,
kuliner, kesenian, dan lain-lain. Kedua, mengenai roh dan fisik sebuah benda.
Maksudnya adalah benda fisik memiliki makna yang dahsyat dari apa yang sekedar
terlihat.
Kedua permasalahan tersebut yang akan Hastanto perhatikan
lebih dalam bahkan akan dijadikan sebagai piranti-piranti utama dalam mencari
eksplanasi tentang konsep pathêt yang
lebih mendekati kebenaran dalam buku Konsep Pathêt
Dalam Karawitan Jawa.
Dalam membangun eksplanasi tentang konsep pathêt dalam karawitan Jawa, Hastanto
dalam buku Konsep Pathêt dalam
Karawitan Jawa menguraikannya mulai dari Piranti yang meliputi bentuk benda
fisik karawitan dan konsep-konsep dalam karawitan, serta kebiasaan budaya
masyarakat Jawa; Ulasan singkat mengenai berbagai macam usaha untuk menjelaskan
kebenaran konsep pathêt dalam
karawitan Jawa; Pertumbuhan rasa pathêt
dalam laras sléndro; Pertumbuhan rasa
pathêt dalam laras pélog.
BAB II
PIRANTI ANALISIS
Piranti analisis yang akan digunakan Hastanto dalam mendekati
konsep pathêt terdiri dari berbagai
pengetahuan karawitan Jawa baik yang bersifat tangible maupun intangible, baik
tekstual maupun kontekstual. Karena menurut Hastanto, tanpa membeberkan piranti
ini maka diskusi yang bersifat kultural maupun yang teknis akan selalu
mengalami gangguan. Untuk sampai pada konsep pathêt, Hastanto akan mengupas lapisan kulit fisik maupun non-fisik
yang membungkus konsep pathêt,
diantaranya gamelan; tembang di dalam karawitan; gending; serta konsep ageng, tengah, alit.
§
Gamelan
Gamelan akan dijelaskan mulai dari definisi gamelan serta
gambaran umum gamelan yang meliputi gambaran umum fisik dan gambaran umum
non-fisik. Definisi gamelan adalah seperangkat fisik ansambel musik yang
ricikannya didominasi oleh ricikan bersumber bunyi dengan bahan logam
(perunggu) di dalam dua sistem pelarasan yaitu laras sléndro dan pélog. Selain
berbahan perunggu juga terdapat ricikan dengan sumber bunyi kayu, dawai (petik
maupun gesek), udara, serta membran.
Gambaran umum fisik gamelan dengan sumber bunyi logam
terdiri dari empat bentuk, diantaranya bilah, pencon, piringan, dan gulungan. Untuk bentuk bilah, terdapat tiga
jenis permukaan yaitu sigar penjalin,
gigir sapi, dan kruwingan atau blimbingan. Bentuk bilah ditata
horizontal berderet mulai dari nada berfrekuensi rendah sampai dengan nada
berfrekuensi tinggi di atas rancakan kayu (jati atau sono).Terdapat dua macam
rancakan untuk ricikan bentuk bilah, yaitu rancakan yang sekaligus berfungsi
sebagai resonator seluruh nada, dan rancakan yang juga berfungsi sebagai tempat
menata resonator setiap bilah yang ditata di atasnya.
Untuk bentuk pencon, terdiri dari dua macam yaitu pencon lanang dan pencon wadon. Pencon wadon
dapat ditata secara vertical maupun horizontal, sedangkan pencon lanang ditata secara horizontal. Pencon yang ditata horizontal diletakkan di atas rancakan dengan
dilengkapi dengan tali penyangga pencon.
Pencon yang ditata vertikal digantung
pada sebuah gawangan dengan tali
khusus yang diameternya disesuaikan dengan ukuran pencon.
Untuk bentuk piringan selalu berpasangan, satu pihak
ditata terlentang di atas tatakan dan yang lain dipegang tangan dan dibenturkan
ada pasangannya. Bentuk gulungan juga berpasangan yang dimainkan oleh dua
pemain dipegang dengan cara khusus dan ditabuh dengan tabuhan khusus pula.
Gamelan dengan sumber bunyi dawai yang dipetik maupun
digesek terbuat dari kawat kuningan. Untuk dawai yang dipetik kawatnya
direntang berjajar dengan diganjal dengan logam tipis miring di atas sebuah
resonator yang sekaligus berfungsi sebagai badan ricikan. Sedangkan dawai yang
digesek direntang di sebuah bingkai terbuat dari kayu keras, gading, atau
tanduk. Resonator terbuat dari batok kelapa atau kayu yang ditutup membran
tipis. Getaran kawat ditimbulkan dari gesekan yang terbuat dari bulu ekor kuda
yang direntang pada sebuah busur.
Gamelan dengan sumber bunyi udara dibangun dengan
menggunakan buluh bambu khusus, pada bagian badan dilengkapi dengan
lubang-lubang pengatur nada. Untuk sumber bunyi memban berbentuk silinder
dengan bagian kanan dan kiri dipasang membran. Kedua membran ditegangkan dengan
sistem tali-temali dengan badan ricikan terbuat dari kayu.
Gambaran umum non-fisik gamelan meliputi laras, êmbat, dan pathêt. Laras yaitu sistem pengaturan frekuensi
dan interval nada, dalam gamelan terdapat dua sistem pelarasan yaitu sléndro dan pélog. Êmbat yaitu
suasana atau atmosfer musikal yang disebabkan karena struktur interval dalam
pelarasan gamelan, sedangkan pathêt
yaitu suasana/atmosfer musikal yang disebabkan karena rasa seleh pada nada-nada
tertentu dalam sebuah lagu hasil dari rangkaian nada-nada pembentuk lagu itu sendiri.
§
Tembang
Tembang atau sekar adalah lagu vokal yang teksnya berupa
puisi Jawa tradisional yang sering disebut basa
pinathok. Teks yang secara format sudah demikian ketatnya masih harus
mengandung permainan kata seperti jumlah suku kata, panjang-pendek sifat suku
kata, dan rima yang teratur. Secara umum terdapat empat jenis tembang atau
sekar yaitu sekar ageng, sekar tengahan, sekar macapat, dan lelagon.
§
Gending
Istilah gending digunakan untuk
memberi nama lagu-lagu yang disajikan oleh gamelan baik secara instrumental
maupun dengan vokal, dan di dalam gending inilah terutama konsep pathêt beroperasi. Di dalam dunia
karawitan terdapat banyak istilah yang berkaitan langsung dengan gending,
diantaranya gending alit, gending ageng, gending sekar, gending pamijèn, gending rebab, gending gender,
gending bonang, gending gambang, gending kendang, gending pakurmatan, dsb.
-) Bentuk dan Struktur Gending
Bentuk dan struktur gending yang
digolongkan sebagai gending alit adalah lancaran, ketawang, dan ladrang.
Sedangkan gending ageng meliputi gending kêthuk
2 kêrêp, kêthuk 2 arang, kêthuk 4 kêrêp, dan kêthuk 4 arang. Bentuk kêthuk
kêrêp maupun arang dalam karawitan
disebut mérong, yang biasanya tidak
dapat disajikan sendiri. Dalam kebiasaannya mérong
harus disajikan dengan bentuk kelanjutannya yang disebut inggah.
Bentuk gending yang reguler pasangan mérong dan inggah sebagai berikut: Ketawang gending kêthuk 2 kêrêp minggah 4, Ketawang gending kêthuk 4 minggah 8, Gending kêthuk
2 kêrêp minggah 4, Gending kêthuk
4 minggah 8, Gending kêthuk 8 minggah 16, Gending kêthuk
2 arang minggah 8, Gending kêthuk 4 arang minggah 16.
Selain gending di atas, terdapat juga
gending pamijèn. Gending pamijèn artinya tidak reguler atau
sesuatu yang khusus. Bentuk yang dianggap pamijèn
apabila struktur frasa gending itu keluar dari kebiasaan. Selain pamijèn, dalam karawitan terdapat juga
bentuk gending khusus, yaitu gending yang panjang pendeknya kalimat lagu tidak
merata seperti bentuk gending yang sudah dijelaskan di atas. Bentuk gending
khusus tersebut antara lain ayak-ayak, srepeg, sampak, dan kemuda.
-) Sajian Gending
Terdapat dua kelompok besar sajian
gending dalam karawitan, yaitu klenengan dan wayangan. Klenengan adalah bila
gending itu disajikan khusus untuk didengarkan/ sebagai sajian konser musikal,
sedangkan wayangan bila gending itu disajikan untuk mengiringi perhelatan
wayang kulit sesiang atau semalam suntuk.
Sajian klenengan (konser musikal)
secara tradisional terdapat aturan terkait pathêt.
Untuk sajian klenengan pada siang hari urutan gending yang disajikan harus
dimulai dari gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan
gending pélog pathêt barang, dilanjutkan gending sléndro pathêt sanga
berpasangan dengan gending pélog pathêt nem, menjelang sore disajikan
kembali gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan
gending pélog pathêt barang. Sedangkan untuk sajian klenengan pada malam hari
dimulai dari gending sléndro pathêt nem berpasangan dengan gending pélog pathêt lima, dilanjutkan gending sléndro pathêt sanga
berpasangan dengan gending pélog pathêt nem, menjelang pagi disajikan
kembali gending sléndro pathêt manyura berpasangan dengan
gending pélog pathêt barang. Untuk sajian wayangan, dimulai dari pathêt nem, sanga, kemudian manyura.
-) Pendukung Sajian Gending
Pendukung sajian gending adalah
lagu-lagu pendek maupun panjang yang biasanya berirama ritmis dan disajikan
oleh sebagian irama garap. Pendukung ini dimainkan sebelum atau sesudah sajian
gending untuk memantapkan rasa pathêt
gending. Lagu-lagu pendukung gending tersebut antara lain thinthingan gender,
grimingan gender, senggrengan rebab, pathêtan,
sendhon, ada-ada, dan adangiyah.
-) Jenis Gending Berdasarkan Ricikan
yang Memimpin
Secara tradisional gending juga
diklasifikasikan berdasarkan ricikan yang memimpin menjadi 5 kelompok, yaitu
gending bonang, gending rebab, gending gender, gending gambang, dang gending
kendang.
§
Konsep
Ageng, Tengah, dan Alit
Budaya Jawa tidak membagi tinggi-rendah suara musik
secara fisik tetapi semua diukur dengan rasa keindahan sesuai dengan kebiasaan
budayanya. Tinggi-rendah nada hanya dibagi menjadi tiga, yaitu alit (kecil atau
tinggi), tengah (sedang), dan ageng (besar atau rendah).
§
Arah
Nada
Salah satu karakteristik balungan gending adalah arah
nada dari balungan gending itu. Dalam melodi apapun arah nada hanya ada tiga,
yaitu arah nada turun (descending melody), gantungan (reciting melody) dan arah
nada naik (ascending melody).
BAB III
STUDI PATHÊT MASA LALU
SELAYANG PANDANG
§
Teori
Nada Gong
Para pionir terobsesi oleh teori musik Barat, kemudian secara
statistik mencatat nada-nada gong dari gending-gending pathêt sanga, manyura dan nem , maka ditentukanlah bahwa nada gong
pada pathêt manyura kebanyakan nada
nem (6), gulu (2), dhadha (3); pathêt
sanga pada nada lima (5), barang (1),dan gulu (2); sedangkan pathêt nem pada nada-nada gulu (2), lima
(5), dan nem (6). Apabila nada-nada tadi dideret maka nada-nada gong tersebut
menjadi lingkaran kempyung (sircle of fifth). Pikiran inilah yang digunakan
Hastanto untuk mengembangkan instrumen analisis pathêt yang dalam buku ini Hastanto sebut “teori nada gong”.
Secara teoritis memang fantastis, tetapi dalam kehidupan
karawitan Jawa sehari-hari seperti itu tidak terjadi sehingga dari pengembangan
tools analisis pathêt ini
diketemukan, bahwa pathêt sanga
adalah pathêt terendah diantara pathêt manyura dan nem. Rekayasa
imajiner menunjukkan sléndro pathêt sanga adalah pathêt yang terendah . Padahal dalam praktik sehari-hari pathêt nem-lah yang terendah.
Jika konsep “nada gong” sebagai penanda pathêt itu betul, memang pathêt sanga bukanlah pathêt terendah tetapi menduduki
tengah-tengah. Pathêt manyura
tertinggi dan pathêt nem terendah.
§
Theme
(Pengembangan Tema Melodi)
Konsep musik Barat lainnya yang digunakan sebagai padanan
studi pathêt adalah tema lagu. Konsep
ini diterapkan di dalam komposisi gending Jawa. Dalam hal ini yang dianggap
sebagai tema inti gending adalah lagu pendek sebagai pembuka sebuag gending.
Hasil ini menurut Hastanto tidak akurat, sebab memang tidak demikian budaya
karawitan Jawa. Hastanto mengambil contoh buka Gending Titipati sléndro pathêt nem yang identik dengan buka Gending Gandakusuma sléndro pathêt sanga.
Menurut Hastanto, kalau memang tema inti itu merupakan
“biang”-nya sebuah gending, tentunya walaupun mungkin melodinya berkembang
berbeda, pathêtnya tentu harus masih
sama. Tetapi dalam kenyataannya pathêt
Gending Titipati tidak sama dengan pathêt
Gending Gandakusuma. Dengan demikian Hastanto menyimpulkan bahwa tema inti yang
dikembangkan oleh Mantle Hood tidak dapat digunakan sebagai penanda pathêt dalam karawitan Jawa secara
akurat.
§
Frasa
dan Gatra
Sebuah gending terdiri dari beberapa kalimat lagu, dan
setiap kalimat lagu terdiri dari frasa-frasa. Frasa adalah satuan terkecil dari sebuah lagu. Analisis dalam penelitian
rasa pathêt juga menggunakan frasa
sebagai satuan melodi terkecil. Di dalam kebanyakan gending Jawa, frasa
berhimpitan dengan satuan metrik notasi gending yang disebut gatra. Tetapi
banyak juga frasa yang tidak berhimpit dengan gatra. Hal ini yang sering
menjebak para peneliti pathêt
sebelumnya, mereka mengira bahwa gatra adalah satuan melodi terkecil.
Sindusawarna, Hardjasubrata, dan Machyar Angga Kusumadinata
mendasarkan analisisnya pada gatra, dan nada akhir gatra menjadi sangat
penting. Menurut Hastanto tentu saja hasil studi para pionir ini kurang akurat
untuk menjelaskan masalah pathêt.
Sebab sering dapat kita temui bahwa akhir gatra bukanlah akhir frasa.
§
Kombinasi
Kontur, Pitch, dan Posisi
Judith Becker merintis jalan baru untuk menjelaskan pathêt yang diikuti oleh muridnya, Susan
Walton. Mereka mencari penjelasan pathêt
lewat tiga kombinasi situasi, yaitu kontur melodi, tinggi rendah nada (pitch),
dan posisi melodi itu di dalam struktur sebuah gending. Melodi yang dimaksud
adalah satuan melodi terkecil, dan gatra masih dianggap sebagai satuan terkecil
itu. Dengan demikian tentunya kalau ada melodi berkontur sama, tinggi rendah
nadanya sama, dan posisinya di dalam struktur gending sama maka pathêtnya sama.
Hastanto dalam bukunya mengambil contoh notasi balungan
3231 3216 (kenong pertama Ladrang Pangkur sléndro
pathêt manyura) dan notasi balungan
5621 3216 (kenong perama Ketawang Sinom Parijatha sléndro pathêt sanga).
Notasi balungan 3216 pada kedua repertoar gending di atas kontur melodinya sama
menurun urut, nadanya sama juga, posisinya sama-sama menduduki gatra kedua
kenong pertama, tetapi kenyataanya memiliki pathêt
yang berbeda.
§
Dyad
Akhir Cengkok Gender
Sumarsam dan McDermot mengadakan studi tentang pathêt lewat sajian gender barung.
Mereka menyatakan bahwa akhir cengkok gabungan nada (dyad) 2/2, 3/3, dan 2/5
menunjukkan pathêt frasa tersebut
adalah pathêt nem; apabila berakhir
pada gabungan nada (dyad) 5/5, 6/6, 5/1, dan 6/2 adalah pathêt sanga; apabila berakhir pada gabungan nada (dyad) 6/6, 1/1,
6/2, dan 1/3 adalah pathêt manyura.
Menurut Hastanto studi pathêt Sumarsam dan McDermot belum menyelesaikan masalah, karena
belum bisa menentukan pathêt apabila
gabungan nada (dyad) berakhir dengan dyad 6/6 dan 6/2 sebab kedua gabungan itu
terdapat di dalam cengkok pathêt
sanga dan pathêt manyura.
§
Cengkok
Mati
KRT. Martodiputo atau yang lebih dikenal dengan nama
Martopangrawit mengembangkan konsep “cengkok mati” sehubungan dengan studi
mengenai pathêt. Cengkok mati adalah
frasa tertentu yang selalu digarap oleh instrument garap dengan pathêt yang tetap.
Berdasarkan pengalamannya menyajikan karawitan sebagai
penggender, Martopangrawit mencatat “cengkok mati” pathêt sanga, manyura dan nem. Studi pathêt Martopangrawit menurut Hastanto juga belum bisa
menyelesaikan masalah. Hastanto mengambil contoh balungan cengkok mati pathêt sanga yang sudah dicatat
Martopangrawit yaitu 22.. 2321. Menurut Martopangrawit, balungan cengkok mati
tersebut berpathêt sanga kemudian
Hastanto mengambil contoh balungan yang sama yaitu 22.. 2321 dalam Gending
Lobong sléndro pathêt manyura dalam rangka menyanggah studi pathêt dari Martopangrawit. Dalam Gending Lobong sléndro pathêt manyura balungan 22.. 2321 sama sekali tidak mempunyai rasa pathêt sanga.
§ Pasangan Pathêt dalam Laras Selndro dan Pélog: Sebuah Kebiasaan Budaya Jawa
Terpengaruh oleh teori lingkaran
kempyung, fungsi nada atau nada dasar dalam setiap pathêt dan juga persepsi bahwa pathêt
sléndro dan pélog berpasangan, maka banyak peneliti yang menggunakan alur pikir
pencarian kebenaran pathêt di dalam
laras sléndro untuk diterapkan ke
dalam pencarian kebenaran pathêt di
dalam laras pélog.
Berdasarkan pengamatan kembali pathêt-pathêt di dalam laras pélog,
Hastanto dalam buku ini berusaha keluar dari jalan dan pemikiran yang
sudah-sudah, terdeteksi bahwa secara teknis rinci pathêt di dalam laras pélog
berbeda dengan apa yang ada di dalam laras sléndro.
Persamaan landasannya tidak terletak pada teknis rinci seperti yang
diperkirakan oleh peneliti terdahulu, tetapi landasan yang lebih luas, lebih
musikal, yaitu atmosfer musikal. Penyebab atmosfer yang berbeda antara pathêt-pathêt di dalam laras sléndro
berlainan dengan apa yang ada di dalam laras pélog.
BAB IV
PATHÊT DALAM LARAS SLÉNDRO
Pathêt,
paling tidak di dalam laras sléndro
adalah suasana musikal atau atmosfer tertentu yang ditimbulkan oleh frasa-frasa
melodi tertentu. Sebuah frasa tiddak akan berarti apa-apa sebelum didahului dan
diikuti dengan frasa-frasa melodi yang lain. Sebuah gending akan mempunyai
atmosfer sléndro pathêt manyura: a) apabila gending itu hanya terdeiri dari
frasa-frasa pathêt manyura; b)
apabila gending itu terdiri dari frasa campuran pathêt tetapi pathêt
manyura merupakan yang mayoritas; c) apabila gending itu mengandung frasa-frasa
pathêt lain yang cukup panjang tetapi
diakhiri dengan frasa-frasa pathêt
manyura.
Sebuah gending akan dirasakan
sebagai gending sléndro pathêt sanga: a) apabila gending itu hanya
terdiri dari frasa-frasa pathêt
sanga; b) apabila gending itu terdiri dari frasa campuran pathêt tetapi frasa pathêt
sanga merupakan yang mayoritas; c) apabila gending itu mengandung frasa-frasa pathêt lain yang cukup panjang tetapi
diakhiri dengan frasa-frasa pathêt
sanga.
Tidak ada gending yang hanya terdiri
dari frasa-frasa pathêt nem saja.
Sebuah gending akan dirasakan sebagai gending sléndro pathêt nem: a)
apabila frasa-frasa pathêt nem
merupakan frasa yang mayoritas dan menduduki berbagai seleh melodi; b) apabila
seleh kalimat lagunya adalah frasa nem walaupun sebagian besar frasa dalam
gending itu merupakan frasa yang berpathêt
ganda atau netral; c) apabila frasa pathêt
nem menduduki sebagian besar bagian gending walaupun frasa lainnya merupakan
campuran antara frasa-frasa pathêt
manyura, pathêt sanga, dan
frasa-frasa berpathêt ganda atau
netral dalam hal pathêt.
Apabila di dalam gending terdapat
perpindahan pathêt biasanya mengikuti
satu pola, yaitu perpindahan pathêt
manyura ke pathêt nem atau
sebaliknya, dan dari pathêt sanga ke pathêt nem atau sebaliknya. Jarang
sekali terjadi perpindahan dari pathêt
sanga ke pathêt manyura atau
sebaliknya secara langsung. Apabila hal itu terjadi, maka rasa pathêt pada gending itu menjadi
“ngambang” sehingga gending itu sering digarap di dalam laras pélog yang mempunyai toleransi lebih
tinggi dalam hal menerima campuran pathêt,
atau digarap dalam laras sléndro
sebagai gending bonang. Apabila figure pathêt manyura diikuti langsung oleh figure pathêt sanga akan menimbulkan atmosfer yang lain dari kedua pathêt itu, yaitu rasa sléndro pathêt nem.
BAB
V
PATHÊT DALAM LARAS PÉLOG
Pathêt
di dalam laras pélog, seperti halnya
di dalam laras sléndro, adalah
semacam suasana musikal atau atmosfer yang dibangun oleh susunan melodi
tertentu. Rasa ini dapat dirasakan oleh mereka yang terbiasa dengan dunia
karawitan. Walaupun ada empat pathêt
yang dapat dirasakan, yaitu pélog pathêt lima, pélog pathêt nem, pélog pathêt barang, dan pélog pathêt manyura, tetapi hanya tiga pathêt yang secara resmi diakui. Pélog pathêt manyura biasanya dimasukkan dalam kategori pélog pathêt nem. Hal itu mungkin disebabkan karena rasa musikalnya mirip
dengan pélog pathêt nem dan jumlahnya tidak banyak.
Salah satu pathêt di dalam laras pélog,
yaitu pélog pathêt barang, menggunakan laras tersendiri, yaitu sub-laras pélog pathêt barang. Di dalamnya paling tidak terdapat tiga karakteristik
kombinasi melodi yang dapat membangun rasa “pathêt”
yang berbeda-beda, tetapi karena atmosfer musikalnya tidak begitu berbeda maka
semuanya ‘dianggap’ sebagai satu pathêt
saja, yaitu pélog pathêt barang. Ternyata pélog pathêt barang bukan seperti keranjang sampah, yang artinya apapun
bentuk melodinya apabila dimainkan di dalam sub-laras pélog barang menjadi pathêt
barang. Anggapan itu salah, ternyata gending-gending yang melodinya berkarakter
sléndro sanga kental, tidak dapat
dimainkan di dalam sub-laras pélog pathêt barang.
Di dalam sub-laras pélog bem, telinga pengrawit dapat
membedakan adanya tiga aftmosfer musikal yang diberi nama: pélog pathêt lima, pélog pathêt nem, dan pélog pathêt manyura. Seperti halnya di dalam
laras sléndro, perbedaan atmosfer
musikal ini dibangun poleh susunan melodi tertentu. Susunan-susunan melodi itu
dapat menimbulkan efek terhadap nada mana yang dianggap tepat sebagai nada
penting. Nada-nada penting itu tidak harus menjadi nada seleh, mereka merupakan
nada yang diharapkan oleh rasa musikal kita untuk hadir sebagai seleh melodi.
Apabila nada-nada penting itu menduduki seleh melodi, maka rasa mantap akan
memenuhi rasa musikal kita, semacam terpatri dan sulit untuk diganti.