Monday, April 13, 2020

Laporan Observasi "Tayub" sebagai pelengkap rangkaian upacara adat Unan-Unan Suku Tengger Probolinggo



“TAYUB”
Rangkaian Upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger
Ds. Jetak, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur


            Pertunjukan kesenian yang dihadirkan dalam rangkaian upacara adat Unan-unan suku Tengger adalah tayub. Tayub yang dihadirkan berasal dari Malang. Jawa Timur. Terdiri dari 22 personil, diantaranya enam sinden tayub, tiga pramugari, pemain bonang barung, bonang penerus, kendang, demung, dua pemain saron, saron penerus, kenong, gong, drumset, gitar, bass, serta organ.
            Busana yang dikenakan para kelompok tayub, khususnya pesinden masih sama dengan busana pesinden jawa pada umunya. Yaitu memakai kebaya, sanggulan serta memakai kain jarik. Namun kebaya yang dikenakan keenam pesinden dikelompokkan dalam dua kelompok. Tiga diantaranya memakai kebaya dominan warna hitam dan tiga lainnya memakai kebaya dominan warna kuning. Motif jarik yang dikenakan pesinden juga disesuaikan. Pesinden dengan kebaya dominan warna hitam mengenakan jarik dengan motif ‘parang curiga’ (tidak batik tulis) dan pesinden dengan kebaya dominan warna kuning mengenakan jarik dengan motif ‘pring sedapur’ (tidak batik tulis dominan warna kuning juga). Sanggul yang dikenakan keenam pesinden bervariasi, ada yang mengenakan gaya klasik dan juga ada juga yang gaya modern. Sedangkan personil yang lainnya terdapat sedikit kebebasan dan berbeda dengan busana penabuh pada umumnya. Para penabuh tidak mengenakan kain jarik dan blangkon melainkan hanya memakai celana panjang serta udeng (iket) namun tetap masih memakai beskap. Udengnya pun beragam ada yang gaya Bali ada juga yang memakai udeng khas gaya suku Tengger.
            Gamelan yang digunakan dalam pertunjukan tayub berbahan dari besi. Laras gamelan tersebut sedikit sudah rusak (blero=Jawa). Khususnya terlihat jelas dari suara yang ditimbulkan dari instrumen saron. Apabila melihat ragam ukiran rancak serta instrument dari gamelan tersebut dapat dikatakan terdapat tiga campuran gaya didalamnya. Ukiran nagan identik dengan gaya Surakarta, ukiran lung-lungan identik gaya Yogyakarta, serta instrumen kendang Jekdong identik dengan gaya Jawa Timuran.
            Rangkaian acara Tayub pada upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger Ds. Jetak, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur, dimulai dari gending pambuka yaitu Jula-Juli yang diawali kidungan dari salah seorang pramugari. Pada sajian gending Jula-Juli, ketika salah seorang pramugari menyajikan kidungan, keenam pesinden berdiri berjajar di atas panggung untuk memberikan penghormatan (salam pambuka) dengan menari secara bersamaan di bagian awal acara. Posisi berdiri keenam pesinden juga disesuaikan dengan kelompok warna kebaya yang mereka kenakan. Pesinden dengan kebaya warna kuning di sebelah kanan dan pesinden dengan kebaya warna hitam di sebelah kiri. Pramugari yang menyajikan kidungan awal gending Jula-Juli berada di tengah.
            Setelah sajian gending pembuka disajikan, selanjutnya dilaksanakan sesi tayub dengan diawali oleh tetua adat Desa Jetak. Jalannya acara dipandu sepenuhnya oleh pramugari. Setelah semua tetua adat Desa Jetak dipersilakan pramugari untuk naik ke atas panggung, mula-mula diberikan selendang (sampur) yang berwarna orange. Dan sebelum gending tayub disajikan, salah pesinden meminta uang saweran kepada seluruh tetua adat yang hendak ‘nayub’ bersamanya. Pada sesi tayub ini, pesinden yang hendak menyajikan tayub dilaksanakan secara bergantian berdasarkan kelompok warna kebaya. Itu dilaksanakan secara bergantian dan intens sampai acara selesai.
            Kekompakan busana yang dikenakan tidak hanya hadir dari kelompok kesenian tayub saja. Melainkan masyarakat Desa Jetak berdasarkan status juga terlihat kompak. Sebagai contoh busana yang dikenakan kelompok tetua adat dapat dikatakan seragam (kompak). Dengan memakai jas warna hitam, celana panjang hitam, dan memakai iket khas suku tengger walaupun berbeda motif. Contoh lainnya hadir pada kelompok pemuda Desa Jetak. Memakai baju seragam pemuda dengan kombinasi warna hitam dan merah hati, celana yang digunakan sebagian besar memakai celana jeans, dan memakai iket semua.
            Kemeriahan acara Tayub didukung dengan lighting serta hiasan-hiasan yang terpasang di bagian atas. Didukung juga dengan antusias warga setempat dan warga dusun lain yang datang silih berganti menyaksikan pertunjukan tayub tersebut. Tersedia juga minuman (bir) yang disediakan panitia untuk para tamu. Minuman tersebut memberikan kehangatan di tengah suhu dingin daerah pegunungan Bromo.
            Pada sajian tayub, gerakan yang disajikan oleh pengibing dari pihak masyarakat terlihat tidak ada ketentuan. Dapat dikatakan bebas tetapi dalam kebebasan tersebut suatu ketika terdapat gerakan yang tidak disadari dan tidak terkonsep terdapat kesamaan gerak. Kesamaan gerak terdapat pada bagian-bagian tertentu sebagai wujud respon terhadap pola tabuhan kendang. Selepas itu mereka bergerak kembali sesuai kenyamanan masing-masing pengibing. Kebersamaan dan rasa persatuan dalam balutan kesederhanaan dapat tergambar jelas pada acara tayub tersebut.

No comments:

Post a Comment

Laporan Observasi "Tayub" sebagai pelengkap rangkaian upacara adat Unan-Unan Suku Tengger Probolinggo

“TAYUB” Rangkaian Upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger Ds. Jetak, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur             Per...