“TAYUB”
Rangkaian
Upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger
Ds.
Jetak, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur
Pertunjukan
kesenian yang dihadirkan dalam rangkaian upacara adat Unan-unan suku Tengger
adalah tayub. Tayub yang dihadirkan berasal dari Malang. Jawa Timur. Terdiri
dari 22 personil, diantaranya enam sinden tayub, tiga pramugari, pemain bonang
barung, bonang penerus, kendang, demung, dua pemain saron, saron penerus,
kenong, gong, drumset, gitar, bass, serta organ.
Busana
yang dikenakan para kelompok tayub, khususnya pesinden masih sama dengan busana
pesinden jawa pada umunya. Yaitu memakai kebaya, sanggulan serta memakai kain
jarik. Namun kebaya yang dikenakan keenam pesinden dikelompokkan dalam dua kelompok.
Tiga diantaranya memakai kebaya dominan warna hitam dan tiga lainnya memakai
kebaya dominan warna kuning. Motif jarik yang dikenakan pesinden juga
disesuaikan. Pesinden dengan kebaya dominan warna hitam mengenakan jarik dengan
motif ‘parang curiga’ (tidak batik tulis) dan pesinden dengan kebaya dominan
warna kuning mengenakan jarik dengan motif ‘pring sedapur’ (tidak batik tulis
dominan warna kuning juga). Sanggul yang dikenakan keenam pesinden bervariasi,
ada yang mengenakan gaya klasik dan juga ada juga yang gaya modern. Sedangkan
personil yang lainnya terdapat sedikit kebebasan dan berbeda dengan busana
penabuh pada umumnya. Para penabuh tidak mengenakan kain jarik dan blangkon
melainkan hanya memakai celana panjang serta udeng (iket) namun tetap masih memakai beskap. Udengnya pun beragam ada
yang gaya Bali ada juga yang memakai udeng khas gaya suku Tengger.
Gamelan
yang digunakan dalam pertunjukan tayub berbahan dari besi. Laras gamelan
tersebut sedikit sudah rusak (blero=Jawa).
Khususnya terlihat jelas dari suara yang ditimbulkan dari instrumen saron. Apabila
melihat ragam ukiran rancak serta instrument dari gamelan tersebut dapat
dikatakan terdapat tiga campuran gaya didalamnya. Ukiran nagan identik dengan gaya Surakarta, ukiran lung-lungan identik gaya Yogyakarta, serta instrumen kendang
Jekdong identik dengan gaya Jawa Timuran.
Rangkaian
acara Tayub pada upacara Adat Unan-Unan Suku Tengger Ds. Jetak, Kec. Sukapura,
Kab. Probolinggo, Jawa Timur, dimulai dari gending pambuka yaitu Jula-Juli yang
diawali kidungan dari salah seorang pramugari. Pada sajian gending Jula-Juli,
ketika salah seorang pramugari menyajikan kidungan, keenam pesinden berdiri
berjajar di atas panggung untuk memberikan penghormatan (salam pambuka) dengan
menari secara bersamaan di bagian awal acara. Posisi berdiri keenam pesinden
juga disesuaikan dengan kelompok warna kebaya yang mereka kenakan. Pesinden
dengan kebaya warna kuning di sebelah kanan dan pesinden dengan kebaya warna
hitam di sebelah kiri. Pramugari yang menyajikan kidungan awal gending
Jula-Juli berada di tengah.
Setelah
sajian gending pembuka disajikan, selanjutnya dilaksanakan sesi tayub dengan
diawali oleh tetua adat Desa Jetak. Jalannya acara dipandu sepenuhnya oleh
pramugari. Setelah semua tetua adat Desa Jetak dipersilakan pramugari untuk
naik ke atas panggung, mula-mula diberikan selendang (sampur) yang berwarna
orange. Dan sebelum gending tayub disajikan, salah pesinden meminta uang
saweran kepada seluruh tetua adat yang hendak ‘nayub’ bersamanya. Pada sesi
tayub ini, pesinden yang hendak menyajikan tayub dilaksanakan secara bergantian
berdasarkan kelompok warna kebaya. Itu dilaksanakan secara bergantian dan
intens sampai acara selesai.
Kekompakan
busana yang dikenakan tidak hanya hadir dari kelompok kesenian tayub saja.
Melainkan masyarakat Desa Jetak berdasarkan status juga terlihat kompak.
Sebagai contoh busana yang dikenakan kelompok tetua adat dapat dikatakan
seragam (kompak). Dengan memakai jas warna hitam, celana panjang hitam, dan
memakai iket khas suku tengger walaupun berbeda motif. Contoh lainnya hadir
pada kelompok pemuda Desa Jetak. Memakai baju seragam pemuda dengan kombinasi
warna hitam dan merah hati, celana yang digunakan sebagian besar memakai celana
jeans, dan memakai iket semua.
Kemeriahan
acara Tayub didukung dengan lighting serta hiasan-hiasan yang terpasang di
bagian atas. Didukung juga dengan antusias warga setempat dan warga dusun lain
yang datang silih berganti menyaksikan pertunjukan tayub tersebut. Tersedia
juga minuman (bir) yang disediakan panitia untuk para tamu. Minuman tersebut
memberikan kehangatan di tengah suhu dingin daerah pegunungan Bromo.
Pada sajian tayub, gerakan yang
disajikan oleh pengibing dari pihak masyarakat terlihat tidak ada ketentuan.
Dapat dikatakan bebas tetapi dalam kebebasan tersebut suatu ketika terdapat
gerakan yang tidak disadari dan tidak terkonsep terdapat kesamaan gerak.
Kesamaan gerak terdapat pada bagian-bagian tertentu sebagai wujud respon
terhadap pola tabuhan kendang. Selepas itu mereka bergerak kembali sesuai
kenyamanan masing-masing pengibing. Kebersamaan dan rasa persatuan dalam
balutan kesederhanaan dapat tergambar jelas pada acara tayub tersebut.
No comments:
Post a Comment